Kiai Asep Siapkan Istighosah 27 September, Soroti Risywah dan Pengkondisian Muktamar NU

Politik6 Dilihat

Surabaya – Ketua Umum Jaringan Kyai Santri Nasional (JKSN), Prof Dr KH Asep Saifuddin Chalim atau Kiai Asep, menyiapkan istighosah bersama pada Minggu (27/9/2026) untuk meminta keadilan kepada Allah SWT terkait polemik pelaksanaan Muktamar ke-35 NU di Jombang.

Kiai Asep yang juga Ketua Umum Persatuan Guru Nahdlatul Ulama (Pergunu) dan Pengasuh Ponpes Amanatul Ummah Pacet Mojokerto itu mengatakan, panitia pelaksana telah mengklaim Muktamar ke-35 NU berjalan lancar, tidak ada apa-apa, tidak ada risywah, tidak ada pengkondisian, berlangsung demokratis, dan tidak ada tekanan. Namun, menurut Kiai Asep, risywah, penyekapan, dan pengkondisian dalam pelaksanaan Muktamar ke-35 NU tersebut sudah menjadi rahasia umum.

“Rahasia umum itu artinya mestinya barangnya, barang yang harus dirahasiakan, tapi masyarakat sudah umum semuanya mengetahui. Berkaitan dengan itu, maka warga Nahdlatul Ulama, para nahdliyin, untuk meminta keadilan kepada Allah untuk menunjukkan mana sebetulnya yang benar. Ya, dengan cara kita melakukan istighosah untuk menunjukkan kebenaran,” tegas Kiai Asep kepada media di kediamannya Siwalankerto Surabaya, Rabu (23/9/2026).

Muktamar ke-35 NU sendiri telah berlangsung di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, pada 27-31 Agustus 2026. Forum tersebut merupakan forum musyawarah tertinggi NU dan telah menetapkan KH Miftachul Akhyar sebagai Rais Aam PBNU serta KH Abdul Hakim Mahfudz atau Gus Kikin sebagai Ketua Umum PBNU masa khidmat 2026-2031.

“Untuk menunjukkan kebenaran, saya ada rencana akan nanti diikuti, bisa diikuti oleh semua warga nahdliyin, sebab jelek sekali nama Nahdlatul Ulama hari ini. Dan warga nahdliyin yang tentu merasa tersinggung bahwa Nahdlatul Ulama diperlakukan semacam ini, mengikuti nantinya istighosah yang kita selenggarakan pada Minggu (27/9/2026) mendatang,” lanjutnya.
Sehingga, lanjut Kiai Asep, istighosah tersebut merupakan istighosah bersama yang diikuti oleh ribuan dan bahkan jutaan warga nahdliyin untuk meminta keadilan terhadap mereka yang telah memperlakukan Nahdlatul Ulama dengan tidak baik.

“Berani-beraninya ya, berada di atas kehendaknya dengan menggunakan risywah dan penyekapan-penyekapan itu. Saya kira itu. Mudah-mudahan ini, dan bagi mereka yang tidak dzalim terhadap Nahdlatul Ulama, tidak usah merasa khawatir dengan dengan nanti munajat bersama yang akan dilakukan ini. Ya, karena kita juga tidak boleh menyebut nama siapa. Walaupun mungkin masyarakat umum sudah tahu siapa mereka itu. Tapi kita tidak boleh menyebut nama. Nah, siapapun tidak boleh tersinggung. Kalau ada yang tersinggung, ya, berarti mereka yang melakukan,” tukasnya.

Pernyataan Kiai Asep tersebut menjadi kritik terhadap klaim bahwa pelaksanaan Muktamar ke-35 NU berlangsung demokratis tanpa risywah, pengkondisian, maupun tekanan. Sebelumnya, panitia dan pihak penyelenggara menyatakan pelaksanaan muktamar berjalan sukses. Ketua Organizing Committee (OC) Muktamar ke-35 NU Saifullah Yusuf atau Gus Ipul juga menyampaikan bahwa seluruh tahapan muktamar berjalan sesuai rencana.

“Karena kita tidak akan menyebut nama. Kita akan meminta kepada Allah keadilannya untuk menghancurkan orang-orang yang dzalim terhadap Nahdlatul Ulama di Muktamar ke-35 NU di Jombang itu. Saya kira, mungkin itulah jalan keluarnya,” pungkasnya dengan menjelaskan akan dilaksanakan Istighosah untuk menyelamatkan NU pada Minggu (27/9/2026) mendatang dengan bermunajat kepada Allah SWT. 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *