KH Said Aqil Siroj: Pesantren Harus Memahami Sejarah Islam secara Mendalam dan Sistematis

Uncategorized6 Dilihat

SURABAYA – Sejarah memiliki kedudukan penting dalam tradisi keilmuan Islam. Al-Qur’an memuat kisah para nabi dan umat terdahulu yang menjadi pelajaran bagi kehidupan manusia. Karena itu, memahami sejarah tidak cukup dengan menghafal peristiwa masa lalu, tetapi perlu menelusuri konteks, sebab-akibat, dan dinamika peradaban yang membentuk kehidupan umat. Pesan tersebut mengemuka dalam peluncuran dan bedah buku Historiografi Islam Nusantara di Deka Hotel, Surabaya, Sabtu (17/10).

Prof. Dr. KH. Said Aqil Siroj, M.A., penulis buku sekaligus Ketua Umum Lembaga Persahabatan Ormas Islam (LPOI), menekankan pentingnya membangun kesadaran sejarah dalam pendidikan Islam. Menurut pemikiran yang menjadi landasan pembahasan buku tersebut, sejarah merupakan bagian penting untuk memahami perjalanan umat, perkembangan pemikiran, serta kontribusi Islam dalam pembentukan peradaban.

Al-Qur’an menghadirkan beragam kisah sejarah yang tidak sekadar menceritakan kejadian masa silam, melainkan juga mengandung pelajaran tentang kehidupan manusia, perubahan masyarakat, kepemimpinan, dan konsekuensi tindakan suatu kaum. Oleh sebab itu, pemahaman terhadap pesan Al-Qur’an dapat diperkaya dengan penelusuran konteks sejarah secara cermat.

Perhatian terhadap sejarah juga terlihat dalam pemikiran Ibnu Khaldun melalui karya monumentalnya, al-Muqaddimah. Pemikir Muslim tersebut menempatkan sejarah sebagai kajian yang memerlukan penalaran kritis, pemeriksaan berita, dan pemahaman terhadap dinamika masyarakat. Pendekatan ini relevan untuk membangun tradisi penelitian sejarah yang tidak menerima setiap riwayat secara mentah, tetapi mengujinya berdasarkan sumber dan konteks.

Dalam konteks pendidikan, pesantren dinilai memiliki peran strategis untuk memperkuat kajian sejarah Islam secara mendalam dan sistematis. Pembelajaran sejarah tidak semestinya berhenti pada hafalan nama tokoh, tahun, dan peristiwa. Santri perlu memahami hubungan antar peristiwa, perkembangan pemikiran ulama, perubahan sosial-politik, serta kontribusi umat Islam dalam perjalanan bangsa.

Gagasan tersebut sejalan dengan penerbitan buku Historiografi Islam Nusantara karya KH Said Aqil Siroj bersama KH Imam Pituduh, Sekretaris Jenderal LPOI. Buku ini mendorong kajian sejarah Islam Nusantara sebagai bidang ilmiah yang terbuka terhadap beragam perspektif, sumber, dan metode penelitian.

Dalam materi rilis LPOI, Buya Said juga menekankan bahwa Islam di Nusantara berperan dalam membentuk jaringan pendidikan, perdagangan, hukum, diplomasi, bahasa, sastra, kebudayaan, serta institusi sosial dan politik. Jejak kontribusi tersebut dapat ditelusuri melalui pesantren, jaringan ulama, manuskrip, tradisi keilmuan, dan organisasi Islam.

Peluncuran di Surabaya dimaksudkan sebagai bagian dari upaya merekonstruksi narasi sejarah Islam Nusantara dan mewariskannya kepada generasi mendatang, sekaligus menapaktilasi sejarah Nusantara dan perjuangan kemerdekaan. Acara ini menghadirkan sejumlah tokoh, antara lain Dr. Sony H. Haribowo, M.B.A., Ketua Dewan Pakar Yayasan SASNU; KH. Imam Pituduh, S.H., M.H.; dan Prof. Dr. KH. Imam Ghazali Said, M.A., Guru Besar UIN Sunan Ampel Surabaya. Diskusi dimoderatori K.R.T. Dr. R. Otto Bambang Wahyudi, M.Si., M.M., serta dimeriahkan penampilan komika Bobby Al Mahbub.

Melalui kegiatan ini, Yayasan SASNU berharap penguatan literasi sejarah dapat mendorong pesantren dan generasi muda menjadi lebih kritis dalam membaca masa lalu, memahami identitas kebangsaan, serta merawat warisan Islam Nusantara sebagai bekal membangun peradaban masa depan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *